Rosa Rai Djalal: Film itu Subjektif



Tgl Event : 28 April 2017

Berawal dari ketidaksengajaan, Dokter Gigi Rosa Rai Djalal memutuskan untuk terjun meramaikan industri perfilman di Tanah Air sebagai eksekutif produser dengan mengusung bendera Chanex Ridhall Pictures.


Berawal dari ketidaksengajaan, Dokter Gigi Rosa Rai Djalal memutuskan untuk terjun meramaikan industri perfilman di Tanah Air sebagai eksekutif produser dengan mengusung bendera Chanex Ridhall Pictures. Setahun lalu, istri diplomat senior Dino Patti Djalal ini sedang mencari instrumen keuangan yang cocok untuk investasi. Sayangnya, kondisi saham sedang menurun.

Pertemuannya dengan Sutradara Rudy Soedjarwo membuatnya merasa bahwa terjun di bisnis perfilman dapat dijadikan pilihan untuk investasi. “Rudy menyarankan untuk investasi di film yang low budget dahulu,” tuturnya. 

Keputusan Rosa untuk menjadi produser cukup mengejutkan banyak orang, termasuk sang suami, Dino Patti Djalal. Mantan Juru Bicara Kepresidenan di zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu sempat menilai bahwa pilihan istrinya itu salah arah, karena tidak berpengalaman di bidangnya.

Namun, Rosa sangat yakin dalam pilihan investasi tersebut, dan akhirnya mendapatkan restu dari suami. Menyadari risiko yang sangat tinggi di industri ini, Rosa banyak berkonsultasi dengan produser film yang sudah terlebih dahulu terjun ke dunia ini yakni Raam Punjabi dan Manoj Punjabi.  “Sangat berisiko untuk industri dan untuk diri sendiri. Mengingat film itu meskipun bagus [ceritanya], kadang tidak bagus di market. Jadi tidak ada rumus kesuksesan untuk [pemasaran] film,” jelasnya. 

Risiko di depan mata itu tidak membuatnya gentar. Dia memegang prinsip bahwa film yang membawa pesan positif kepada khalayak akan selalu dicari dan ditonton. Prisnip itu yang selalu diterapkannya saat membaca skenario dan menyetujui untuk memproduseri film. “Saya ingin selalu membuat film yang memberi bekas di hati agar penonton pulang dengan membawa sesuatu [pesan],” tutur runner up Miss Indonesia 1995 ini.

Masih terkenang di benak Rosa ketika memproduseri film pertamanya yang berjudul Stay with Me pada 2016. Film yang dibintangi oleh Boy William dan Ully Tirani tersebut disutradarai oleh Rudy Soedjarwo dan naskah ditulis oleh Anggi Septianto. Saat itu, Rosa belum mendirikan rumah produksi. Dia menjadi produser secara pribadi.

Ternyata, film drama romantis berdurasi 107 menit tersebut mendapatkan sambutan positif dari moviegoers. Apresiasi itu membuat Rosa tambah percaya diri dan bertekat untuk kembali membuat film. Kali ini dia tampil lebih berani dengan mendirikan rumah produksi Chanex Ridhall Pictures.

Tidak tangung-tanggung, belum lama berdiri, pada tahun ini rumah produksinya telah memproduksi dua film yakni Iqra dan Bukaan 8. “Meskipun sudah beberapa kali membuat film tetapi saya masih belajar. Saya terus membangun jaringan di dunia film, salah satunya dengan mengikuti beberapa konferensi film dunia.”

Beberapa konferensi yang diikutinya a.l. American Film Market & Conference, dan Hong Kong International Film & TV Market.

Bukti ketekunan Rosa dapat dilihat dari tiga proyek film yang tengah menanti untuk digarap. Dia mengaku belum dapat mengungkapkan rahasia dapur produksinya secara detail. Dia hanya mengatakan bahwa dari tiga film tersebut, dua berupa drama komedi religi, dan film laga. Dua film dijadwalkan tayang pada 2017, dan satu lagi pada 2018.

Belum lama menekuni industri film, membuat Rosa merasa banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan para sineas di Tanah Air. Menurutnya, film Indonesia masih perlu menampilkan ciri khas atau karakter. Dia mencontohkan India dikenal karena film-film Bollywood yang identik dengan tari dan menyanyi. Dua hal itu menjadikan India dikenal di seluruh dunia.

Tantangan lain yang harus dihadapinya dengan posisi menjadi produser adalah membuat film yang disukai khalayak. “Film itu sangat subjektif. Kita [produser] suka, belum tentu orang lain suka. Hal itu menjadi tantangan bagi sineas untuk membuat film yang disukai banyak orang,” katanya.

Keuntungan yang diraih Rosa di ladang bisnisnya ini, ternyata tidak untuk dirinya dan tim produksi saja, tetapi sebagian dialokasikan untuk pemberdayaan perempuan, yang disalurkan melalui Yayasan Women for the World Foundation.

“Di yayasan ini saya membekali perempuan untuk mampu secara finansial. Kalau bisa percaya diri dan mandiri saya yakin para perempuan tetap survive dan dapat memberikan pendidikan yang baik untuk  anaknya.”

WAKTU KELUARGA

Di tengah kesibukannya berkarier, Rosa tetap memprioritaskan keluarga, terutama memberikan waktu untuk ketiga anaknya. “Saya selalu berada di rumah pukul 18.00 wib. Kalau saya terpaksa harus keluar rumah, saya akan membawa anak-anak,” jelasnya.

Dia mengatakan, sekeluarga sangat suka melakukan perjalanan ke dalam dan luar negeri. Dia mengatakan semakin banyak negara atau daerah di dalam negeri yang dikunjungi maka akan memperluas wawasan, sekaligus meningkatkan rasa syukurnya.

Di Indonesia, Rosa dan keluarga sering mengunjungi Bali, Yogyakarta, Bandung, dan Sulawesi. Dalam waktu dekat dia dan keluarga berencana untuk mengunjungi beberapa daerah di Indonesia seperti Toraja, Bromo dan Flores.

Di luar kesibukannya, Rosa memiliki hobi mengoleksi kain tradisional seperti batik, dan tenun. Dari berlembar-lembar kain yang dikoleksinya, dia menyimpan batik lawas yang dibuat pada 1920. 

Kecintaan Rosa terhadap kain tradisional ini dibuktikannya dengan membuat gawangan yang sengaja dipesan untuk memajang koleksi kain di rumahnya.

 

Source: http://koran.bisnis.com/read/20170428/456/648668/rosa-rai-djalal-film-itu-subjektif

0 Komentar


© Copyright 2016 Women for The World. All Rights Reserved.