Kursi bagi Perempuan  



Sekitar 11% persentase kenaikan partisipasi politik dan kepemimpinan perempuan sejak tahun 1995. Angka ini sangat kecil dalam kurun waktu 20 tahun.


 Pict Source: http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=50294#.WgknysaWbIU

 

Women need a seat at the table, they need an invitation to be seated there, and in some cases, where this is not available, well then you know what, they need to create their own table. We need a global understanding that we cannot implement change effectively without women’s political participation.

(Meghan Markle, UN Women Ambassador)

 

UN Women meramalkan bahwa ketidaksetaraan gender akan masih ada sampai tahun 2030. Namun studi merilis bahwa ketidaksetaraan gender masih akan terjadi sampai tahun 2095, sekitar 80 tahun lagi. Sekitar 11% persentase kenaikan partisipasi politik dan kepemimpinan perempuan sejak tahun 1995. Angka ini sangat kecil dalam kurun waktu 20 tahun. Sungguh ini adalah keprihatinan besar dan perlu dikaji lebih dalam. Partisipasi politik perempuan perlu mendapat perhatian lebih dari yang selama ini telah dilakukan. Ini bukan hanya tentang menuntut kesetaraan namun juga memperjuangkan hak asasi manusia.

Negara kita menganut sistem demokrasi. Jantung demokrasi adalah keterlibatan seluruh lapisan masyarakat dalam partisipasi politik, tidak memandang jenis kelamin. Partisipasi politik perempuan tentu juga dipertimbangkan di Indonesia. Suara perempuan dalam politik mulai bergaung sejak diadakannya Kongres Perempuan pada tanggal 22 Desember tahun 1928. Partisipasi perempuan dalam memberikan suara untuk memilih juga telah cukup memadai. Peraturan perundang-undangan juga telah membuka peluang bagi perempuan dalam politik. Undang-undang No. 10 tahun 2008 pasal 53 berisi tentang peraturan pelibatan perempuan minimal 30% dalam daftar calon legislatifnya. Namun, kuota ini tidak pernah terpenuhi secara maksimal. Saat ini partisipasi perempuan di level legislatif Indonesia hanya mencapai 17,32% dari target 30%. Jumlah perempuan yang bertarung sebagai calon legislatif malah mengalami penurunan dari periode sebelumnya.

Ada banyak penyebab mengapa keterwakilan perempuan dalam bidang politik masih sangat kurang. Kehidupan sosial perempuan yang berkarir dalam dunia politik akan mengalami tekanan dari masyarakat. Selain urusan kodrat yang terus menerus diingatkan, perempuan dianggap terlalu sensitif dan tidak mampu menjadi pemimpin.. Padahal sifat-sifat sensitif dan kelembutan juga penting dimiliki seseorang untuk menjadi pemimpin. Sifat inilah yang menjadi faktor penting mengapa perlu ada partisipasi perempuan dalam dunia politik.

Perlu diciptakan beberapa kebijakan yang sensitif gender apalagi dalam hal kebijakan perencanaan pembangunan. Perencanaan pembangunan harus melibatkan perempuan sehingga pembangunan bisa merata di setiap lapisan masyarakat. Bagaimana mungkin laki-laki dapat mengatur kebijakan-kebijakan mengenai perempuan jika mereka tidak pernah merasakan berada di dunia diskriminasi terhadap perempuan. Di bulan Januari 2017, sebuah foto menjadi viral di dunia maya. Foto ini memperlihatkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menandatangi peraturan tentang pelayanan kesehatan, khususnya mengenai aborsi, dan di foto itu tidak terlihat satupun perempuan yang ikut menyaksikan penandatanganan tersebut. Betapa elit politik tidak memperhitungkan keterlibatan perempuan dalam membuat kebijakan tentang perempuan.

Sensifitas gender dalam elit partai politik masih kurang juga menjadi salah satu alasan kurangnya partisipasi politik perempuan. Peningkatan pendidikan politik di masyarakat perlu dilakukan oleh partai-partai politik di Indonesia. Kader perempuan dalam partai politik akan menambah jumlah representasi perempuan untuk mencalonkan diri di tingkat legislatif. Selain itu, kader perempuan dalam partai politik akan menambah kualitas perempuan untuk persiapan menghadapi dunia politik. Di banyak kasus, perempuan-perempuan yang menjadi pemimpin di dunia politik tidak memiliki kualitas sehingga menimbulkan citra yang buruk tentang perempuan sebagai pemimpin.

Perempuan harus memiliki kemampuan memadai secara intelektualitas dan mentalitas. Keberanian dan kepercayaan diri merupakan modal penting untuk maju, kedua hal ini akan mendorong perempuan untuk mneningkatkan kapabilitasnya. Memasuki dunia politik yang dikenal “kejam” dan “kotor” membuat para pelakunya harus tahan banting jika ingin bertahan di tingkat tinggi politik Indonesia. Perempuan harus bisa menunjukkan integritasnya dalam menjalankan tugas-tugas negara sehingga anggapan-anggapan yang selama ini tercipta dalam masyarakat mengenai perempuan di dunia politik bisa segera diatasi.

Ketika ada perempuan yang mampu mengakses berbagai informasi dan aktif sepenuhnya dalam dunia politik maka mengajak perempuan lain menjadi seperti dirinya menjadi tantangannya. Perempuan harus bisa saling berpegang tangan dan mendukung satu sama lain. Seperti kata Megan Markle, jika perempuan tidak mendapat kursi maka perempuan butuh menciptakan kursi mereka sendiri dan mengundang perempuan lainnya.

0 Komentar


© Copyright 2016 Women for The World. All Rights Reserved.