Mengenal Women For The World



Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia yang memiliki banyak prestasi dalam berbagai bidang, bersinar dalam perkembangan bangsa-negara.

Dengan perjalanan sejarah yang panjang, terlihat  bahwa perempuan Indonesia memiliki peran dan keterlibatan yang besar di dalamnya. Dimulai dari Kartini, pahlawan nasional Indonesia untuk emansipasi perempuan kemudian Megawati, presiden pertama Indonesia. Namun, pada saat yang sama, perempuan Indonesia juga masih menghadapi banyak hambatan dalam membangun fondasi yang kuat dalam bidang pendidikan, kesempatan dan persamaan hak bagi perempuan.

Oleh karena itu, melalui Women For The World Foundation, kami berusaha menggiatkan pemberdayaan guna meningkatkan kapasitas perempuan Indonesia. Sebagai organisasi non-profit dengan gagasan lima tahunan yang bertujuan untuk mengangkat profil perempuan Indonesia, Women For The World foundation akan berfokus pada pemberdayaan perempuan dalam bidang Ekonomi dan Tekhnologi, Politik dan Partisipasi Masyarakat, Pendidikan dan Kesehatan Ibu Hamil.

Melalui Women For The World Foundation, perempuan Indonesia beriringan dengan perempuan di seluruh dunia akan maju bersama dalam menumbuhkan pemimpin-pemimpin baik di pemerintahan, sektor swasta, filantropi, akademisi, dan NGO serta mengembangkan kemitraan pemerintah dan swasta dalam pelaksanaan dan implementasi program.

Visi :

Memberdayakan, mendorong dan menciptakan perempuan yang mandiri dan berpartisipasi aktif dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, untuk meningkatkan kesejahteraan, stabilitas keluarga dan mendukung pemerintah dalam pengentasan kemiskinan. 

Misi :

Women for The World bekerjasama dengan lembaga pemerintah dan swasta untuk pemberdayaan dan memajukan peran perempuan dalam perekonomian, tekhnologi, pendidikan, dan kesehatan  Indonesia dalam tatanan demokrasi melalui :

  1. Dialog
  2. Roundtable dan Focus Group Discussion
  3. Workshop
  4. Pelatihan, Pendampingan dan Peningkatan Kapasitas
  5. Memajukan Kepemimpinan dan Partisipasi Perempuan
  6. Program Kajian Gender
  7. Colaborative Learning

Indonesia has performed shining feats along with the development of the nation-state. With its long and
tumultuous historical events, Indonesian women have a long history of involvement in the country; from Kartini, heroine of Indonesian women emancipation, to Megawati, Indonesia’s first woman president. At the same time, Indonesian women are still facing barriers to build a solid basis of education, opportunity, and basic legal rights.


We therefore endeavor to bring about women’s empowerment in Indonesia through Women for The
World Foundation. As a non-profit organization with five-year initiative and a keen interest in elevating the profile of women in Indonesia, the foundation is focused on empowering women in the areas of Economic & Technology, Political & Civic Participation, Education, and
Maternal Health Care.

Together with Women for The World Foundation, Indonesian women along with women around the world will go a step further in nurturing leaders in the government, private sector, philanthropy,academia, and non-governmental organization as well as developing public-private partnerships in implementing the programs.

Vision:
Empowering, encourage and create independent and active women participating in the economic,
political, educational, and health sectors of the country to increase prosperity, family stability and
help the government to reduce poverty.


Mission:
Women for The World partners with public and private institutions to empower and advance the
role of women in Indonesia’s economic and democratic landscape through:

  1. Dialogue
  2. Roundtable & Focus group discussion
  3. Workshops
  4. Training, Mentoring and capacity building
  5. Promoting leadership and woman participation
  6. Women studies program
  7. Collaborative learning

 

Profile Founder Women For The World, Drg. Rosa Rai Djalal

Rosa Rai Djalal
Dokter Gigi Cantik yang Ingin Mengubah Dunia Melalui Organisasi Perempuan

Rosa Rai Djalal adalah sosok yang dikenal sebagai seorang dokter gigi. Namun di samping mengemban profesi tersebut, istri dari mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Pati Djalal ini juga lekat dengan beragam kegiatan sosial, baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga tak heran sosoknya begitu menginspirasi, terutama untuk perempuan-perempuan Indonesia.

Sejak duduk di bangku sekolah, Ocha (panggilan akrab Rosa) memang telah akrab dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengabdian masyarakat, baik saat bersama OSIS di SMA-nya maupun dalam senat sewaktu kuliah. Hal ini justru membuatnya senang dan bahagia, berada sangat dekat dengan masyarakat. Dan terus berlanjut hingga menemukan pengalaman menarik yang sulit terlupakan, yakni ketika Ocha menjadi salah satu dokter Puskesmas di Kepulauan Seribu. “Saya merasa benar-benar seperti dokter, menolong orang yang terasa sekali mereka merasa ditolong,” ungkap Ocha. Sedangkan untuk berobat di Puskesmas masyarakat disana hanya membayar Rp 900, namun sebagai wujud terima kasih tak jarang para warga memberikan ikan atau buah tangan lainnya untuk para dokter.

Selama dua tahun pulang-pergi ke Kepulauan Seribu Ocha tak segan untuk bertandang ke rumah nelayan atau tukang becak langganannya sekedar untuk menerima jamuan makan dari mereka. Tentu dengan menu sederhana, layaknya ikan yang dibakar sendiri. Di tengah masyarakat yang hidup sederhana namun tentram dan rukun seperti itu, Rosa merasakan solidaritas dan persahabatan yang tulus dengan masyarakat setempat seakan mendapatkan penghargaan yang luar biasa. “Untuk saya ini lebih daripada uang yang bisa dilihat dampaknya, dampak yang kita berikan dengan kehadiran kita”.

Uniknya masyarakat setempat menganggap semua dokter itu sama saja, sama-sama bisa melakukan apapun yang dilakukan sebagai seorang dokter. Misalnya saja meskipun sebagai dokter gigi Ocha juga kerap membantu sunatan, membantu suntik KB, juga membantu melahirkan. Tapi sekali lagi Ocha merasa bahagia dengan aktivitasnya, sangat menikmati dan banyak belajar dari masyarakatnya.

Bukan hanya itu saja, sejak SMA Ocha juga sudah terbiasa menjadi orang tua asuh untuk beberapa anak. Mulai dari SD hingga akhirnya mereka selesai kuliah, biaya pendidikannya ditanggung dari dana pribadi Ocha sendiri. Dan setiap caturwulan anak-anak tersebut secara rutin mengirimkan report agar Ocha bisa ikut memantau perkembangan pendidikan mereka. Dari sinilah Ocha semakin menyadari bahwa mengubah hidup seseorang itu membuatnya bahagia, dan Ocha menjadi ketagihan. Hingga kinipun Ocha masih menjadi ketua yayasan Al-Hamid yang khusus memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak SD di Banten.

Menikah dengan seorang diplomat pun tak menghentikan berbagai kegiatan yang telah dilakukan sejak lama itu, tapi justru membuatnya semakin aktif. Terlebih ketika Ocha ikut sang suami bertugas di Amerika Serikat, yang mana ia dipercaya menjadi President of Muslim Women Association, yaitu sebuah organisasi non-profit yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan dan kesehatan perempuan. Kemudian menjadi President of ASEAN Women’s Circle, sebuah organisasi sosial yang anggotanya terdiri dari para perempuan perwakilan dari negara-negara ASEAN. Dan juga terlibat sebagai honorary chair Refugees International yang merupakan suatu organisasi kemanusiaan independen yang memberi dukungan pada pengungsi, orang terlantar, dan orang-orang tanpa kewarganegaraan.

Sebagai presiden dari Muslim Women Association Ocha memiliki peran penting, termasuk memperkenalkan Islam khususnya kepada masyarakat Amerika yang pada saat itu mengalami islamophobia. Melalui diskusi serta dialog, wajah Islam yang sebenarnya diperkenalkan secara jelas. Bukan hanya masyarakat yang beragama Islam, tapi juga orang-orang non-muslim lainnya. “Karena saya sangat yakin Islam itu bukan agama ekslusif tapi agama inklusif, rahmatan lil ‘alamin. Semua orang harus tahu wajah Islam yang sebenarnya”. Ini menjadi tanggung jawab seorang muslim, untuk menjelaskan yang sebenarnya, bahwa Islam cinta damai dan sebagainya. Ocha percaya melalui dialog dan diskusi interaktif, semua orang baik yang beragama Islam maupun yang bukan dapat saling belajar.

Sayangnya Ocha sempat mendapat penentangan dari teman-temannya sendiri, karena sejak berdiri pada tahun 1961, Muslim Women Association hanya beranggotakan muslim Amerika, namun Ocha membuka kesempatan kepada penganut agama apapun untuk menjadi anggotanya. Meskipun begitu ternyata perubahan yang dilakukan Ocha memnerikan dampak yang sangat baik, memberi efek positif, banyak yang semakin mengerti tentang Islam bahkan menjadi suka dengan Islam dan mencintai Islam. “Dengan kita membuka diri, dengan kita membangun komunikasi, membuka dialog, dapat mematahkan semua sentimen negatif pada Islam,” ucap Ocha.

Selain itu Muslim Women Association juga kerap memberikan beasiswa kepada perempuan-perempuan muslim agar mereka dapat meningkatkan pendidikannya. Salah satu pengalaman mengesankan yang juga membuat Ocha semakin menyadari betapa beruntungnya ia dan keluarganya adalah ketika ada salah satu pengungsi Palestina di New York melamar dan mengirim surat pada Ocha. Dalam suratnya pengungsi perempuan tersebut meminta untuk dibantu mendapatkan beasiswa. Iapun bercerita tentang keluarganya, tentang kelima anaknya yang tidak pernah ditemui ayahnya karena harus bekerja 24 jam sebagai supir.

Kemudian Ocha bertemu dengan si pengirim surat beserta suami dan anak-anaknya. Saat pertemuan tersebut cerita yang lebih lengkap terungkap, bahwa perempuan tersebut ingin melanjutkan sekolah agar cita-citanya menjadi guru dapat terwujud. Ia ingin membantu pemasukan keluarga agar suaminya tidak perlu bekerja 24 jam, dan agar anak-anaknya dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik. Selama berbincang, sekuat tenaga Ocha menggigit bibirnya untuk menahan tangis, dan saat itu juga ia merasa betapa kehidupannya dan kehidupan masyarakat Indonesia jauh lebih baik daripada mereka.

Hingga akhirnya perempuan tersebut mendapatkan beasiswa, Ocha selalu mendapat report darinya hingga lulus. Bahkan sampai ia menyelesaikan pendidikannya juga mengirimkan surat dan mengatakan, “Saya sudah lulus menjadi guru, thank you for changing my life. You just changed my life. Sekarang suami saya bisa lebih sering melihat anak-anaknya lagi”. Tapi Ocha menyadari bahwa sebenarnya bukan ia yang mengubah hidup perempuan tersebut, namun perempuan itulah yang mengubah hidup Ocha. Dimana ia melihat perempuan di dunia,banyak yang lebih menderita, dan betapa mensyukuri apa yang dimilikinya di Indonesia.

Ternyata kisah pengungsi Palestina tersebut menginspirasi banyak perempuan imigran lainnya untuk juga meraih pendidikan. Mereka melihat perubahan yang terjadi terhadap perempuan yang telah menjadi guru itu, sehingga banyak sekali yang apply untuk meminta bantuan beasiswa.

Di sisi lain, sebagai honorary chair Refugees International Ocha juga melihat langsung para pengungsi di Haiti, Republik Dominika, dan negara Timur Tengah lainnya yang berjuang karena tidak memiliki kewarganeraan, ditolak oleh negaranya, bahkan harus keluar dari negaranya karena perang. Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, Ocha melihat bahwa perempuan dan anak-anaklah yang paling menderita.

Dari semua pengalaman saat di Amerika baik di Refugees International, Muslim Women Association, di ASEAN, Women’s Foreign Policy Group  serta melihat kondisi di dunia, mendorong Ocha untuk membuat suatu organisasi bernama Indonesia-United States Women’s Council. Saat ini organisasi tersebut pindah ke Jakarta dengan nama Women For The World, dan memiliki tujuan untuk me-impower perempuan. Menurut Ocha ketika kita mengedukasi satu perempuan saja kita dapat mengedukasi seluruh dunia, karena dari seorang perempuan berpendidikan dan berpengetahuan baik, dia bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Dikatakan Ocha bahwa Ibu yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri dengan kemampuan ekonominya bisa membantu anak-anaknya untuk bersekolah dengan baik. Sehingga anak-anak ini tumbuh menjadi individu yang baik, yang akan membentuk satu komunitas yang baik. Komunitas yang baik akan membentuk suatu negara yang baik. Dan suatu negara yang baik akan mengubah dunia menjadi lebih baik. “From one woman we can transform the world,” ujar wanita yang juga pernah menyabet gelar juara III Abang-None Jakarta dan meraih runner up I pada ajang Puteri Indonesia.

Segudang kegiatan yang dijalani Ocha tentu tak lepas dari dukungan sang suami, Dino Patti Djalal, serta ketiga anaknya. Support yang besar dari suami sangat dirasakan Ocha. Akan tetapi sebagai seorang istri dan ibu Ocha sangat menyadari tugas utamanya, sehingga meskipun sesibuk apapun Ocha masih mengutamakan keluarga. Karena ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Hingga saat inipun setiap langkah yang dipilih Ocha selalu diiringi izin dari suami, kemanapun Ocha pergi dan melakukan apapun selalu memberitahu suaminya terlebih dahulu. Selama Ocha melakukan hal-hal yang berdampak positif untuk masyarakat dan keluarga, serta tidak mengambil waktu anak-anak terlalu banyak, maka sang suami memberikan izinnya.

Begitupun dengan anak-anak, yang kerapkali diajak dalam kegiatan-kegitaan Ocha. Sehingga ketiganya tahu bahwa sang Mama adalah seorang dokter gigi, seorang perempuan aktif yang memiliki foundation, dan tahu semua kegiatan Mamanya. Bahkan anak-anak menunjukkan rasa bangganya terhadap mamanya, dan tidak jarang ketiganya memberikan tanggapan-tanggapan unik, seperti “My Mom helps five hundred women”, dan itu menginspirasi mereka. Baik kedua putrinya maupun seorang putranya mengerti bahwa apa yang dilakukan sang mama adalah untuk gerakan kemanusiaan, untuk kemaslahatan banyak orang, untuk masyarakat Indonesia, masyarakat dunia, dan untuk mereka. “Saya berharap suatu hari nanti anak-anak saya dapat bicara pada orang bahwa mamanya did something to change the world for better place”.

Bagi banyak orang, apa yang dilakukan oleh Rosa Rai Djalal ini mungkin dianggap sebagai sebuah kesuksesan, dimana selain aktif membantu masyarakat di dunia dan Indonesia, juga memiliki bisnis berupa klinik gigi, aktif pada investasi saham serta menjadi seorang eksekutif produser film layar lebar. Di samping juga selalu mendampingi serta mendukung karir suami dan membesarkan anak-anak yang cerdas dan berhati mulia. Menurut Ocha makna kesuksesan bagi setiap orang berbeda-beda, namun baginya yang paling penting adalah kebahagiaan lahir dan batin meskipun takaran kebahagiaan setiap orangpun berbeda-beda. “Bagi saya, kebahagiaan dan ketenangan batin sangat penting. Apalagi ketika melihat anak-anak sehat dan bahagia, saya senang,” ujar anak ketiga dari tiga bersaudara ini. “Saya bisa menolong orang, mengubah hidup orang, itu much more than money. Saya merasa diri saya sukses dan bermanfaat untuk orang lain kalau saya bisa mengubah banyak hidup orang lain untuk menjadi lebih baik lagi,” lanjutnya.

 Suatu hari, Ocha memiliki harapan besar dapat mengubah hidup banyak orang, dapat memberikan dampak positif yang luar biasa bagi banyak orang, bisa menyelamatkan sebanyak mungkin hidup orang lain melalui foundation ataupun kegiatan lain yang dilakukan. “Ibu saya selalu menanamkan bahwa sehebat-hebatnya seseorang yang paling bagus dan baik adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain,” ungkap Ocha menutup perbincangan.

 

© Copyright 2016 Women for The World. All Rights Reserved.